Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

SUMINTEN EDAN 2

Masih ingat cerita episode sebelumnya? Warok Guno Seco berhasil mengalahkan Warok Suro Gento yang sering meresahkan warga, hadiahnya adalah ... anak perempuan Warok Guno Seco yang bernama Suminten akan dinikahkan dengan anak Adipati Trenggalek, yaitu Adipati Notokusumo yang bernama Raden Subroto.

Warok Suro Gento akhirnya disidangkan, tetapi tindak kejahatannya diampuni karena telah bicara jujur dan berjanji tidak akan mengulangi kejahatannya.

Bukankah itu sebuah kabar baik bagi Trenggalek? Ya, itu adalah kabar baik bagi masyarakat Trenggalek. Karena janji Warok Suro Gento maka Adipati Notokusumo bergegas ke Majapahit untuk menghadap Prabu Brawijaya. Begitu Lur ceritanya.

Pokoknya Adipati Notokusumo harus menyampaikan kalau tidak ada lagi begal karena Warok Suro Gento tak akan mengulangi kejahatannya. Dengan demikian Trenggalek yang merupakan wilayah Majapahit dianggap sudah aman.

 

****




Singkat cerita.

Dengan didampingi para pejabat Trenggalek, Adipati Notokusumo menghadap Prabu Brawijaya, melaporkan bahwa,  “Kejahatan Warok Suro Gento yang mengganggu keamanan wilayah Trenggalek dan sekitarnya berhasil ditumpas oleh abdi hamba yang bernama Warok Guno Seco beserta prajurit gabungan Trenggalek dan Majapahit, Yang Mulia,” ucap Adipati Notokusumo.

Mendengar laporan ini Prabu Brawijaya sangat bergembira. “Good job, Adipati. Itu yang aku mau,” balas Sang Prabu.

Kalau Warok Guno Seco mendapat hadiah dari Adipati Notokusumo karena telah berhasil menangkap Warok Suro Gento, maka Adipati Notokusumo juga berhak atas hadiah yang telah dijanjikan oleh Prabu Brawijaya, Lur. Bukankah dulu Sang Prabu telah mengirimkan surat kepada Adipati Notokusumo? Benar sekali, Lur. Isi surat dari Prabu Brawijaya adalah “Kalau kamu bisa menangkap dan mengembalikan keamanan Trenggalek, maka aku akan memberimu hadiah.”

Singkatnya, keberhasilan Adipati Notokusumo mengembalikan keamanan Trenggalek dianugerahi emas, picis, rojo brono, juga lencana tanda Jasa Abdi Majapahit berikut pusaka. Wih! Banyak sekali ya, Lur.

“Lalu orang yang berhasil menangkap perusuh itu kamu beri apa, ha?” tanya Prabu Brawijaya.

“Hamba, Yang Mulia. Warok Guno Seco yang berhasil menangkap Warok Suro Gento hingga Trenggalek kembali aman. Sebagai hadiah, aku akan menikahkan putraku dengan anak perempuan Warok Guno Seco, Yang Mulia,” balas Adipati Notokusumo seraya memberi sembah.

“Baikalah, Adipati. Sebagai rasa terima kasihku, aku akan memeriahkan pesta pernikahan putramu.”

“Terima, Yang Mulia.”

“Kapan?”

40 hari ke depan, Yang Mulia.”

Begitulah, Lur.  Prabu Brawijaya juga berjanji untuk membuat pesta pernikahan anak Adipati Notokusumo dengan anak perempuan Warok Guno Seco secara besar-besaran.

“Aku akan memeriahkan pernikahan anakmu dengan Dahar Gembul Bujono, pesta itu nanti juga diwarnai dengan tarian dan gelaran wayang semalam suntuk,” imbuh Prabu Brawijaya.

“Sekali lagi terima kasih, Yang Mulia.”

“Kapan kamu akan pulang ke kadipaten?” tanya Prabu Brawijaya.

“Hamba masih ingin di istana. Mungkin besok, Yang Mulia.”

“Atas kepatuhanmu terhadapku, selain akan kumeriahkan pesta putramu, kepulanganmu juga telah aku persiapkan, Adipati.”

Lagi-lagi, Lur. Adipati Notokusumo banyak mendapat reward atas keberhasilannya membuat Trenggalek kembali aman.

 

****

Keesokan harinya.

 

Hari ini Adipati Notokusumo memutuskan akan kembali ke Trenggalek, tetapi yang makin membanggakan hatinya adalah ... sesuai ucapan Prabu Brawijaya, Adipati  Notokusumo dinaikkan kereta kencana, Lur. Tidak semua orang loh akan diperlakukan istimewa begitu oleh Raja Majapahit begitu rupa.

Sekali lagi ... keistimewaan itu belum berakhir, Adipati naik kereta kencana dan duduk di samping Prabu Brawijaya, diarak oleh prajurit yang memegang umbul-umbul, diarak keliling Majapahit loh. Wuih! Emejing.

Sepanjang jalan, Adipati Notokusumo  dielu-elukan oleh para kawulo Majapahit sebagai Bapak Trenggalek yang sanggup membasmi kejahatan. Bangganya ya, Lur.

Jadi ingat zaman dulu. Pakde juga waktu masih muda pernah diarak keliling kampung loh, Lur. Bukan karena berhasil mengamankan kampung, tetapi karena ketahuan. Ups!

Pokoknya arak-arakan kereta kencana terus berlangsung mengelilingi Majapahit. Kebayang ‘kan betapa bangganya Adipati Notokusumo. Mana duduknya di samping sang raja lagi.

Mendengar sekian janji yang diberikan oleh Prabu Brawijaya, Adipati Notokusumo merona merah wajahnya. Tidak menyangka bahwa jasa Warok Guno Seco ternyata telah mengangkat derajatnya begitu terhormat di mata Majapahit.

Pakde pikir memang layak sih kalau antara Adipati Notokusumo dan Warok Guno Seco menjadi besan. Terlepas mengingat ambisi Warok Guno Seco yang benar-benar ingin menjadi besan orang nomor satu di Trenggalek itu.

Begitu ceritanya, Lur.

Trenggalek sudah aman, Warok Suro Gento sudah dibebaskan dan berjanji tidak akan mengulangi kejahatannya lagi, Warok Guno Seco mendapat hadiah dan anak perempuannya akan dinikahkan dengan putra Sang Adipati, Raja Majapahit sendiri yang akan mengendors pesta pernikahan itu ... kurang apa lagi coba? Semua menguntungkan pokoknya. Iya, ‘kan, Lur?

Kita tinggalkan Majapahit, kita tingalkan keberhasilan Adipati yang dianggap mampu mengembalikan keamanan Trengalek, kita akan hitung mundur pesta pernikahan antara anak Adipati Notokusumo dan anak Warok Guno Seco, Lur.

Let’s go!

 

****

 

Hari ke-35.

Hari demi hari berganti, hingga waktu pernikahan Roro Suminten dengan Raden Subroto tiba. Namun, sebelum menjelang hari pernikahannya, Raden Subroto tampak gelisah, makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, Lur.

Dalam hati Raden Subroto selalu bertanya-tanya, bagaimana mungkin dia menikahi seorang perempuan yang belum sama sekali dikenalnya.

Nah loh! Sama kayak dilema yang dialami oleh Suminten ya, Lur.

“Pokoknya Romo mau kamu menikah dengan anaknya seorang warok. Suminten namanya.”

“Bapaknya punya jasa. Trenggalek menjadi aman. Jelas-jelas romo punya hutang budi padanya. Paham kamu, Le!”

Tapi, Romo. Saya belum kenal anaknya warok yang romo maksud. Cantik apa tidak perilakunya? Jangan-jangan kayak purel.”

“Sudahlah, Le. Romo yakin kamu pasti bahagia menikahi dengan anaknya warok dari daerah Siman yang punya jasa besar bagi Trenggalek.”

“Ya, tetapi, Romo ....”

“Romo tidak mau tahu. Romomu ini sudah berjanji kalau kamu akan romo nikahkan dengan anak. Paham kamu!” tegas Adipati Notokusumo.

Raden Subroto masih merenung, memikirkan ucapan romonya kala itu, Lur.

Apa? Kamu tidak tahu. Makanya baca episode 1 dulu biar gak gagal fokus!

Wes ayo lanjut!

 

****

“Gila! Mana mungkin aku menikah dengan perempuan yang belum aku kenal. Boro-boro PDKT!” golak batin Raden Subroto.

“Anak seorang warok. Warok siapa? Suminten?” Masih bergulat dengan tanya.

Menyadari semakin mendekati hari pernikahan, Raden Subroto menjadi ingin mengetahui langsung calon istrinya yang bernama Suminten itu.

“Kalau aku kelayapan ke rumah warok itu, bisa runtuh martabatku sebagai seorang putra adipati.”

Raden Subroto masih memikirkan caranya agar kedatangannya tidak diketahui oleh warok yang dimaksud oleh romonya.

“Bagaimana caranya, ya?”

Raden Subroto mondar-mandir di dalam kamarnya, bingung menemukan cara untuk mengetahui seperti apa sih Suminten calon istrinya itu, Lur.

Akhirnya ... “Aha! Aku tahu.”

“Bagaimana kalau aku berpura-pura jadi agensi asuransi kesehatan?”

“Tidak-tidak. Aku pikir tidak cocok.”

“Kalau jadi tukang kredit perabot keliling?”

“Sepertinya aku tidak bakat.”

“Aduh! Bagaimana caranya, ya?”

Karenanya Raden Subroto ingin datang ke kediaman warok yang dimaksud oleh romonya di daerah Siman, akhirnya muncullah ide cemerlang.

“Aha! Aku akan menyamar sebagai rakyat biasa.” Mengembang senyum Raden Subroto.

Dengan bergegas Raden Subroto ganti kostum menjadi rakyat biasa, Lur.

Begitulah adanya, Lur. Penyamarannya itu dimaksudkan agar Raden Subroto menjadi tidak mudah dikenali sebagai putra Adipati Notokusumo, bukan hanya oleh para kawulo alit, tetapi juga warok yang akan menjadi calon mertuanya.

Akhirnya Raden Subroto mantap meninggalkan kadipaten setelah berganti pakaian sebagai rakyat biasa, Lur.

Tidak ada pengawalan, tidak pula melompat jendela, Lur. Raden Subroto meninggalkan Dalem Kadipaten Trenggalek hanya dengan berjalan kaki menuju Siman, nama daerah yang pernah disebut oleh romonya.

Catatan, Lur. Raden Subroto ini hanya mendapat info kalau ia akan dinikahkan dengan putrinya seorang warok yang berjasa bagi Trenggalek, tetapi romonya yang tak lain adalah Adipati Notokusomo ini tidak menyebut nama warok siapa gitu, hanya menyebut nama Suminten, anak seorang warok dari daerah Siman. Seuprit banget infonya. Begitu, Lur.

Kata kuncinya hanya “warok” dan “Suminten”. Bingung gak tuh Raden Subroto. Bingung to?

Lanjut, Lur.

 

****

Setelah berjam-jam perjalanan.

Petak sawah maupun hutan lebat dilaluinya, hingga pada akhirnya Raden Subroto ini memasuki wilayah yang dituju, Lur. Desa Siman.

Karena kelelahan menempuh perjalanan berjam-jam, Raden Subroto mencari-cari sebuah gubuk sebagai tempat beristirahat, dan benar saja Raden Subroto menemukan tempat yang dicari.

“Itu ada gubuk. Sebaiknya aku numpang istirahat.”

“Kulonuwun!” sapa salam Raden Subroto ketika sampai di depan pintu gubuk dengan atap anyam alang-alang.

Seorang laki-laki tua pemilik gubuk menerimanya dengan ramah. “Sinten, nggeh?” (Siapa, ya?). Bahkan lelaki tua itu tak mengenali Raden Subroto loh, Lur.

Gak usah banyak basa-basi ya, Lur. Singkatnya lelaki itu memberi Raden Subroto makan dan minum secukupnya setelah mendengar cerita kalau Raden Subroto ini menempuh perjalanan untuk menuju Desa Siman.

“Mencari anak seorang warok yang bernama Suminten?”

“Ya, Ki.”

Dari laki-laki tua itu pula Raden Subroto mendapat cerita yang membuatnya menjadi penasaran.

“Kalau Suminten saya kurang paham, Den. Namun, bila yang dimaksud adalah kembang desa, saya tahu.”

“Serius, Ki?”

“Benar sekali, Den. Desa itu punya kembang desa yang tersohor dan menjadi impian banyak lelaki.”

“Siapa namanya, Ki?” tanya Raden Subroto penasaran. Mungkinkah yang kembang desa yang dimaksud adalah calon istrinya?

“Namanya Warsiah atau kondang dipanggil Cemplok Warsiah, Den.”

“Pokonya begitulah, Den. Gadis itu terkenal karena kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya. Warsiah adalah anak gadis dari seorang Warok bernama Warok Suro Menggolo, Den,” imbuh lelaki itu.

“Warok Suro Menggolo, Ki?”

“Benar, Den.”

“Kembang desa? Anak Warok Suro Menggolo? Kalau iya ... mau banget, ah. He he he.”

“Den, kok senyum-senyum sendiri gitu?”

“Serius kembang desa, Ki?” tanya Raden Subroto untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Cius, Den.”

“Anak seorang warok, Ki?”

“Yap!” jawab lelaki itu.

Karena begitu penasaran mendengarnya ... “Kalau begitu saya akan mengunjungi rumah Warok Suro Menggolo, Ki.”

Sang pemilik gubuk memberi saran bahwa, “Tidak perlu datang ke rumah Warok Suro Menggolo, melainkan pergilah ke sebuah sendang yang berada di sebelah selatan desa, karena setiap sore Warsiah datang ke sendang itu untuk mandi, Den.”

“Oh. Begitu ya, Ki?”

“Yoi, Den.”

 

****

 

Kita tinggalkan Raden Subroto yang berniat untuk menjumpai kembang desa yang dikira calon istrinya, sejenak kembali kepada Warok Suro Gento.

Apa kabarnya Si Begal Gunung Pegat ini ya, Lur? Mungkinkah dia benar-benar insaf?

Seusai diampuni Adipati Notokusumo, Warok Suro Gento memilih kembali ke desa asalnya loh, Lur.

Warok Suro Gento ingin menjadi warga baik-baik dan menjalani hidup seperti orang kebanyakan, punya istri dan keluarga. Pokonya ingin menjadi begal insaf.

Tahu tidak, Lur? Ada seorang perempuan yang sebenarnya telah mengusik perasaannya cukup lama sewaktu menjadi begal, tetapi hanya bisa dipendam saja.

Siapa coba perempuan itu? Yang pasti bukan Sri, janda kidul kali, tetapi perempuan pujaan Warok Suro Gento adalah seorang gadis yang bernama Warsiah. Siapa lagi kalau bukan anak Warok Suro Menggolo. Nah loh! Makin melebar konfliknya. Ya, ‘kan?

Ternyata eh ternyata, Warsiah ini adalah perempuan pujaan mantan begal loh, Lur. Walah ... piye ki, Lur!

Di satu pihak, Raden Subroto yang notabene anak orang yang pernah mengampuni kejahatan Warok Suro Gento sedang mencari calon istrinya, dan dari keterangan lelaki pemilik gubuk, Raden Subroto akan menuju rumah kembang desa tersebut, di satu sisi ... eh, Warok Suro Gento juga memendam rasa juga terhadap kembang desa itu pula. Ruwet ki, pasti ruwet!

 

****

Sejak kepulangannya ke desa, Warok Suro Gento tak mampu memendam rasa kasmaran terhadap pujaan hatinya itu.

Karena tak mampu membendung lagi, diam-diam Warok Suro Gento meninggalkan rumahnya tanpa berpamitan pada bapaknya yang bernama Suro Bangsat.

Serius ini, Lur. Nama bapak Warok Suro Gento memang begitu kok.

Warok Suro Gento sore itu meninggalkan rumah secara diam-diam.

 

****

Singkat cerita.

Perjalanan Warok Suro Gento telah sampai di desa Siman di mana Warok Suro Menggolo dan Warsiah tinggal.

 

Karena kehausan, Warok Suro Gento pergi ke sendang yang terletak di sebelah selatan desa untuk meneguk airnya, Lur.

Satu langkah kakinya hampir tiba di sendang, dada Warok Suro Gento bergetar, ketika menyaksikan perempuan yang ditaksirnya ternyata tengah mandi. Asyikkkk. Bisa sekalian cuci mata. Ya, ‘kan?

Kalau pakde membayangkan kayak film cudai yang sering pakde tonton di X, pasti selanjutnya adegan panas. He he he.

Lagian kenapa juga ada perempuan mandi di sendang sore-sore gini, mana kembang desa lagi. Ya, to?

Kalau pakde yang ada di sana sudah pakde sikat! Giginya maksudnya, Lur. Otakmu sih travelling mulu. Heran!

Lanjut ke Warok Suro Gento, Lur. Makin melebar ke mana-mana nanti, mana ni jari ngetik susah dikontrol! Lanjut lagi ya, Lur.

Karena tak mampu menahan diri, Warok Suro Gento tidak bisa menunggu, dia segera menemui Warsiah.

“Beb, ini aku. Warok Suro Gento, Beb!”

Di hadapan Warsiah, Warok Suro Gento yang polos dan tak terbiasa dengan tata krama itu langsung menyatakan cinta dengan terbata-bata. “Di dadaku selalu ada ... ad ... ada kamu, Beb. Serius! Ibarat bunga ... kamu ... kamu selalu mekar di hatiku, Beb. Ingin sekali aku menghisap sarimu. Yok, Beb! Kita main lebah-lebahan.”

“Aku mau kok Beb jadi lebah jantannya. He he he.”

 

Tentu saja Warsiah justru ketakutan, apalagi sendang saat itu sedang sepi. “Dih, siapa lu! Udah norak, tak punya etika lagi. Ngaca noh ngaca! Muka kayak nampan sagon juga. Sok asyik lu!”

“Ayolah, Beb! Sudah ke ubun-ubun ini.”

Ya,  kontan saja Warsiah jadi takut to, Lur. Mesum banget ini si mantan begal. Sudah kayak pakde-pakde yang kumisan itu. Ih, menakutkan ya, Lur.

Warsiah menjadi merasa terancam, dia takut akan digituin sama Warok Suro Gento yang ada di hadapannya.

“Aku buka loh kamu gak percaya. Aku buka sekarang ya. Mau ‘kan, Beb? Nih lihat nih.”

Warsiah berteriak sekeras-kerasnya meminta pertolongan. “Lonjongggg! Eh, Tolonggggggg!”

“Siapa pun please help me! Tolongggggg!”

Warsiah terus berteriak sambil berlari. “Tolongggg ada yang lonjongggggg!”

Sementara itu, di belakangnya Warok Suro Gento mengejar. “Beb, tunggu dog, ah!”

Warok Suro Gento ingin menjelaskan lebih lanjut karena merasa telah timbul kesalahpahaman. Maksudnya bukti cintanya. Kenapa Warsiah malah teriak-teriak lonjong sih. Aneh!

Bagaimana kelanjutannya, mungkinkah Warok Suro Gento si mantan begal bisa menjelaskan duduk perkara kesalahpahaman ini dan meraih cinta perempuan yang telah lama mengendap di hatinya?

Bagaimana dengan Raden Subroto yang juga memutuskan akan ke sendang? Suminten calon istrinya bagaimana dong? Kok malah sibuk sama kembang desa sih! Nantikan kelanjutannya di episode 3. BERSAMBUNG


PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search