SUMINTEN EDAN 2
Masih ingat cerita episode sebelumnya? Warok Guno Seco
berhasil mengalahkan Warok Suro Gento yang sering meresahkan warga, hadiahnya
adalah ... anak perempuan Warok Guno Seco yang bernama Suminten akan dinikahkan
dengan anak Adipati Trenggalek, yaitu Adipati Notokusumo yang bernama Raden
Subroto.
Warok Suro Gento akhirnya disidangkan, tetapi tindak
kejahatannya diampuni karena telah bicara jujur dan berjanji tidak akan
mengulangi kejahatannya.
Bukankah itu sebuah kabar baik bagi Trenggalek? Ya, itu
adalah kabar baik bagi masyarakat Trenggalek. Karena janji Warok Suro Gento maka
Adipati Notokusumo bergegas ke Majapahit untuk menghadap Prabu Brawijaya. Begitu
Lur ceritanya.
Pokoknya Adipati Notokusumo harus menyampaikan kalau tidak
ada lagi begal karena Warok Suro Gento tak akan mengulangi kejahatannya. Dengan
demikian Trenggalek yang merupakan wilayah Majapahit dianggap sudah aman.
****
Singkat cerita.
Dengan didampingi para pejabat Trenggalek, Adipati Notokusumo
menghadap Prabu Brawijaya, melaporkan bahwa, “Kejahatan Warok Suro Gento yang mengganggu
keamanan wilayah Trenggalek dan sekitarnya berhasil ditumpas oleh abdi hamba
yang bernama Warok Guno Seco beserta prajurit gabungan Trenggalek dan Majapahit,
Yang Mulia,” ucap Adipati Notokusumo.
Mendengar laporan ini Prabu Brawijaya sangat bergembira. “Good
job, Adipati. Itu yang aku mau,” balas Sang Prabu.
Kalau Warok Guno Seco mendapat hadiah dari Adipati Notokusumo
karena telah berhasil menangkap Warok Suro Gento, maka Adipati Notokusumo juga
berhak atas hadiah yang telah dijanjikan oleh Prabu Brawijaya, Lur. Bukankah dulu
Sang Prabu telah mengirimkan surat kepada Adipati Notokusumo? Benar sekali,
Lur. Isi surat dari Prabu Brawijaya adalah “Kalau kamu bisa menangkap dan
mengembalikan keamanan Trenggalek, maka aku akan memberimu hadiah.”
Singkatnya, keberhasilan Adipati Notokusumo mengembalikan
keamanan Trenggalek dianugerahi emas, picis, rojo brono, juga lencana tanda
Jasa Abdi Majapahit berikut pusaka. Wih! Banyak sekali ya, Lur.
“Lalu orang yang berhasil menangkap perusuh itu kamu beri
apa, ha?” tanya Prabu Brawijaya.
“Hamba, Yang Mulia. Warok Guno Seco yang berhasil menangkap
Warok Suro Gento hingga Trenggalek kembali aman. Sebagai hadiah, aku akan
menikahkan putraku dengan anak perempuan Warok Guno Seco, Yang Mulia,” balas
Adipati Notokusumo seraya memberi sembah.
“Baikalah, Adipati. Sebagai rasa terima kasihku, aku akan
memeriahkan pesta pernikahan putramu.”
“Terima, Yang Mulia.”
“Kapan?”
40 hari ke depan, Yang Mulia.”
Begitulah, Lur. Prabu
Brawijaya juga berjanji untuk membuat pesta pernikahan anak Adipati Notokusumo dengan
anak perempuan Warok Guno Seco secara besar-besaran.
“Aku akan memeriahkan pernikahan anakmu dengan Dahar Gembul
Bujono, pesta itu nanti juga diwarnai dengan tarian dan gelaran wayang semalam
suntuk,” imbuh Prabu Brawijaya.
“Sekali lagi terima kasih, Yang Mulia.”
“Kapan kamu akan pulang ke kadipaten?” tanya Prabu Brawijaya.
“Hamba masih ingin di istana. Mungkin besok, Yang Mulia.”
“Atas kepatuhanmu terhadapku, selain akan kumeriahkan pesta
putramu, kepulanganmu juga telah aku persiapkan, Adipati.”
Lagi-lagi, Lur. Adipati Notokusumo banyak mendapat reward
atas keberhasilannya membuat Trenggalek kembali aman.
****
Keesokan harinya.
Hari ini Adipati Notokusumo memutuskan akan kembali ke Trenggalek,
tetapi yang makin membanggakan hatinya adalah ... sesuai ucapan Prabu
Brawijaya, Adipati Notokusumo dinaikkan
kereta kencana, Lur. Tidak semua orang loh akan diperlakukan istimewa begitu
oleh Raja Majapahit begitu rupa.
Sekali lagi ... keistimewaan itu belum berakhir, Adipati naik
kereta kencana dan duduk di samping Prabu Brawijaya, diarak oleh prajurit yang
memegang umbul-umbul, diarak keliling Majapahit loh. Wuih! Emejing.
Sepanjang jalan, Adipati Notokusumo dielu-elukan oleh para kawulo Majapahit
sebagai Bapak Trenggalek yang sanggup membasmi kejahatan. Bangganya ya, Lur.
Jadi ingat zaman dulu. Pakde juga waktu masih muda pernah
diarak keliling kampung loh, Lur. Bukan karena berhasil mengamankan kampung,
tetapi karena ketahuan. Ups!
Pokoknya arak-arakan kereta kencana terus berlangsung
mengelilingi Majapahit. Kebayang ‘kan betapa bangganya Adipati Notokusumo. Mana
duduknya di samping sang raja lagi.
Mendengar sekian janji yang diberikan oleh Prabu Brawijaya,
Adipati Notokusumo merona merah wajahnya. Tidak menyangka bahwa jasa Warok Guno
Seco ternyata telah mengangkat derajatnya begitu terhormat di mata Majapahit.
Pakde pikir memang layak sih kalau antara Adipati Notokusumo
dan Warok Guno Seco menjadi besan. Terlepas mengingat ambisi Warok Guno Seco
yang benar-benar ingin menjadi besan orang nomor satu di Trenggalek itu.
Begitu ceritanya, Lur.
Trenggalek sudah aman, Warok Suro Gento sudah dibebaskan dan
berjanji tidak akan mengulangi kejahatannya lagi, Warok Guno Seco mendapat hadiah
dan anak perempuannya akan dinikahkan dengan putra Sang Adipati, Raja Majapahit
sendiri yang akan mengendors pesta pernikahan itu ... kurang apa lagi coba?
Semua menguntungkan pokoknya. Iya, ‘kan, Lur?
Kita tinggalkan Majapahit, kita tingalkan keberhasilan
Adipati yang dianggap mampu mengembalikan keamanan Trengalek, kita akan hitung
mundur pesta pernikahan antara anak Adipati Notokusumo dan anak Warok Guno
Seco, Lur.
Let’s go!
****
Hari ke-35.
Hari demi hari berganti, hingga waktu pernikahan Roro
Suminten dengan Raden Subroto tiba. Namun, sebelum menjelang hari pernikahannya,
Raden Subroto tampak gelisah, makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, Lur.
Dalam hati Raden Subroto selalu bertanya-tanya, bagaimana
mungkin dia menikahi seorang perempuan yang belum sama sekali dikenalnya.
Nah loh! Sama kayak dilema yang dialami oleh Suminten ya,
Lur.
“Pokoknya Romo mau kamu menikah dengan anaknya seorang warok.
Suminten namanya.”
“Bapaknya punya jasa. Trenggalek menjadi aman. Jelas-jelas
romo punya hutang budi padanya. Paham kamu, Le!”
Tapi, Romo. Saya belum kenal anaknya warok yang romo maksud.
Cantik apa tidak perilakunya? Jangan-jangan kayak purel.”
“Sudahlah, Le. Romo yakin kamu pasti bahagia menikahi dengan
anaknya warok dari daerah Siman yang punya jasa besar bagi Trenggalek.”
“Ya, tetapi, Romo ....”
“Romo tidak mau tahu. Romomu ini sudah berjanji kalau kamu
akan romo nikahkan dengan anak. Paham kamu!” tegas Adipati Notokusumo.
Raden Subroto masih merenung, memikirkan ucapan romonya kala
itu, Lur.
Apa? Kamu tidak tahu. Makanya baca episode 1 dulu biar gak
gagal fokus!
Wes ayo lanjut!
****
“Gila! Mana mungkin aku menikah dengan perempuan yang belum
aku kenal. Boro-boro PDKT!” golak batin Raden Subroto.
“Anak seorang warok. Warok siapa? Suminten?” Masih bergulat
dengan tanya.
Menyadari semakin mendekati hari pernikahan, Raden Subroto
menjadi ingin mengetahui langsung calon istrinya yang bernama Suminten itu.
“Kalau aku kelayapan ke rumah warok itu, bisa runtuh
martabatku sebagai seorang putra adipati.”
Raden Subroto masih memikirkan caranya agar kedatangannya
tidak diketahui oleh warok yang dimaksud oleh romonya.
“Bagaimana caranya, ya?”
Raden Subroto mondar-mandir di dalam kamarnya, bingung menemukan
cara untuk mengetahui seperti apa sih Suminten calon istrinya itu, Lur.
Akhirnya ... “Aha! Aku tahu.”
“Bagaimana kalau aku berpura-pura jadi agensi asuransi kesehatan?”
“Tidak-tidak. Aku pikir tidak cocok.”
“Kalau jadi tukang kredit perabot keliling?”
“Sepertinya aku tidak bakat.”
“Aduh! Bagaimana caranya, ya?”
Karenanya Raden Subroto ingin datang ke kediaman warok yang
dimaksud oleh romonya di daerah Siman, akhirnya muncullah ide cemerlang.
“Aha! Aku akan menyamar sebagai rakyat biasa.” Mengembang
senyum Raden Subroto.
Dengan bergegas Raden Subroto ganti kostum menjadi rakyat
biasa, Lur.
Begitulah adanya, Lur. Penyamarannya itu dimaksudkan agar
Raden Subroto menjadi tidak mudah dikenali sebagai putra Adipati Notokusumo,
bukan hanya oleh para kawulo alit, tetapi juga warok yang akan menjadi calon mertuanya.
Akhirnya Raden Subroto mantap meninggalkan kadipaten setelah berganti
pakaian sebagai rakyat biasa, Lur.
Tidak ada pengawalan, tidak pula melompat jendela, Lur. Raden
Subroto meninggalkan Dalem Kadipaten Trenggalek hanya dengan berjalan kaki
menuju Siman, nama daerah yang pernah disebut oleh romonya.
Catatan, Lur. Raden Subroto ini hanya mendapat info kalau ia
akan dinikahkan dengan putrinya seorang warok yang berjasa bagi Trenggalek,
tetapi romonya yang tak lain adalah Adipati Notokusomo ini tidak menyebut nama
warok siapa gitu, hanya menyebut nama Suminten, anak seorang warok dari daerah
Siman. Seuprit banget infonya. Begitu, Lur.
Kata kuncinya hanya “warok” dan “Suminten”. Bingung gak tuh Raden
Subroto. Bingung to?
Lanjut, Lur.
****
Setelah berjam-jam perjalanan.
Petak sawah maupun hutan lebat dilaluinya, hingga pada akhirnya
Raden Subroto ini memasuki wilayah yang dituju, Lur. Desa Siman.
Karena kelelahan menempuh perjalanan berjam-jam, Raden
Subroto mencari-cari sebuah gubuk sebagai tempat beristirahat, dan benar saja
Raden Subroto menemukan tempat yang dicari.
“Itu ada gubuk. Sebaiknya aku numpang istirahat.”
“Kulonuwun!” sapa salam Raden Subroto ketika sampai di depan
pintu gubuk dengan atap anyam alang-alang.
Seorang laki-laki tua pemilik gubuk menerimanya dengan ramah.
“Sinten, nggeh?” (Siapa, ya?). Bahkan lelaki tua itu tak mengenali Raden
Subroto loh, Lur.
Gak usah banyak basa-basi ya, Lur. Singkatnya lelaki itu memberi
Raden Subroto makan dan minum secukupnya setelah mendengar cerita kalau Raden
Subroto ini menempuh perjalanan untuk menuju Desa Siman.
“Mencari anak seorang warok yang bernama Suminten?”
“Ya, Ki.”
Dari laki-laki tua itu pula Raden Subroto mendapat cerita
yang membuatnya menjadi penasaran.
“Kalau Suminten saya kurang paham, Den. Namun, bila yang
dimaksud adalah kembang desa, saya tahu.”
“Serius, Ki?”
“Benar sekali, Den. Desa itu punya kembang desa yang tersohor
dan menjadi impian banyak lelaki.”
“Siapa namanya, Ki?” tanya Raden Subroto penasaran.
Mungkinkah yang kembang desa yang dimaksud adalah calon istrinya?
“Namanya Warsiah atau kondang dipanggil Cemplok Warsiah, Den.”
“Pokonya begitulah, Den. Gadis itu terkenal karena kecantikan
wajah dan kemolekan tubuhnya. Warsiah adalah anak gadis dari seorang Warok
bernama Warok Suro Menggolo, Den,” imbuh lelaki itu.
“Warok Suro Menggolo, Ki?”
“Benar, Den.”
“Kembang desa? Anak Warok Suro Menggolo? Kalau iya ... mau
banget, ah. He he he.”
“Den, kok senyum-senyum sendiri gitu?”
“Serius kembang desa, Ki?” tanya Raden Subroto untuk meyakinkan
dirinya sendiri.
“Cius, Den.”
“Anak seorang warok, Ki?”
“Yap!” jawab lelaki itu.
Karena begitu penasaran mendengarnya ... “Kalau begitu saya
akan mengunjungi rumah Warok Suro Menggolo, Ki.”
Sang pemilik gubuk memberi saran bahwa, “Tidak perlu datang
ke rumah Warok Suro Menggolo, melainkan pergilah ke sebuah sendang yang berada
di sebelah selatan desa, karena setiap sore Warsiah datang ke sendang itu untuk
mandi, Den.”
“Oh. Begitu ya, Ki?”
“Yoi, Den.”
****
Kita tinggalkan Raden Subroto yang berniat untuk menjumpai
kembang desa yang dikira calon istrinya, sejenak kembali kepada Warok Suro
Gento.
Apa kabarnya Si Begal Gunung Pegat ini ya, Lur? Mungkinkah
dia benar-benar insaf?
Seusai diampuni Adipati Notokusumo, Warok Suro Gento memilih
kembali ke desa asalnya loh, Lur.
Warok Suro Gento ingin menjadi warga baik-baik dan menjalani
hidup seperti orang kebanyakan, punya istri dan keluarga. Pokonya ingin menjadi
begal insaf.
Tahu tidak, Lur? Ada seorang perempuan yang sebenarnya telah
mengusik perasaannya cukup lama sewaktu menjadi begal, tetapi hanya bisa
dipendam saja.
Siapa coba perempuan itu? Yang pasti bukan Sri, janda kidul
kali, tetapi perempuan pujaan Warok Suro Gento adalah seorang gadis yang
bernama Warsiah. Siapa lagi kalau bukan anak Warok Suro Menggolo. Nah loh!
Makin melebar konfliknya. Ya, ‘kan?
Ternyata eh ternyata, Warsiah ini adalah perempuan pujaan mantan
begal loh, Lur. Walah ... piye ki, Lur!
Di satu pihak, Raden Subroto yang notabene anak orang yang
pernah mengampuni kejahatan Warok Suro Gento sedang mencari calon istrinya, dan
dari keterangan lelaki pemilik gubuk, Raden Subroto akan menuju rumah kembang
desa tersebut, di satu sisi ... eh, Warok Suro Gento juga memendam rasa juga
terhadap kembang desa itu pula. Ruwet ki, pasti ruwet!
****
Sejak kepulangannya ke desa, Warok Suro Gento tak mampu
memendam rasa kasmaran terhadap pujaan hatinya itu.
Karena tak mampu membendung lagi, diam-diam Warok Suro Gento
meninggalkan rumahnya tanpa berpamitan pada bapaknya yang bernama Suro Bangsat.
Serius ini, Lur. Nama bapak Warok Suro Gento memang begitu
kok.
Warok Suro Gento sore itu meninggalkan rumah secara
diam-diam.
****
Singkat cerita.
Perjalanan Warok Suro Gento telah sampai di desa Siman di
mana Warok Suro Menggolo dan Warsiah tinggal.
Karena kehausan, Warok Suro Gento pergi ke sendang yang
terletak di sebelah selatan desa untuk meneguk airnya, Lur.
Satu langkah kakinya hampir tiba di sendang, dada Warok Suro
Gento bergetar, ketika menyaksikan perempuan yang ditaksirnya ternyata tengah
mandi. Asyikkkk. Bisa sekalian cuci mata. Ya, ‘kan?
Kalau pakde membayangkan kayak film cudai yang sering pakde
tonton di X, pasti selanjutnya adegan panas. He he he.
Lagian kenapa juga ada perempuan mandi di sendang sore-sore
gini, mana kembang desa lagi. Ya, to?
Kalau pakde yang ada di sana sudah pakde sikat! Giginya maksudnya,
Lur. Otakmu sih travelling mulu. Heran!
Lanjut ke Warok Suro Gento, Lur. Makin melebar ke mana-mana
nanti, mana ni jari ngetik susah dikontrol! Lanjut lagi ya, Lur.
Karena tak mampu menahan diri, Warok Suro Gento tidak bisa
menunggu, dia segera menemui Warsiah.
“Beb, ini aku. Warok Suro Gento, Beb!”
Di hadapan Warsiah, Warok Suro Gento yang polos dan tak
terbiasa dengan tata krama itu langsung menyatakan cinta dengan terbata-bata. “Di
dadaku selalu ada ... ad ... ada kamu, Beb. Serius! Ibarat bunga ... kamu ...
kamu selalu mekar di hatiku, Beb. Ingin sekali aku menghisap sarimu. Yok, Beb!
Kita main lebah-lebahan.”
“Aku mau kok Beb jadi lebah jantannya. He he he.”
Tentu saja Warsiah justru ketakutan, apalagi sendang saat itu
sedang sepi. “Dih, siapa lu! Udah norak, tak punya etika lagi. Ngaca noh ngaca!
Muka kayak nampan sagon juga. Sok asyik lu!”
“Ayolah, Beb! Sudah ke ubun-ubun ini.”
Ya, kontan saja
Warsiah jadi takut to, Lur. Mesum banget ini si mantan begal. Sudah kayak pakde-pakde
yang kumisan itu. Ih, menakutkan ya, Lur.
Warsiah menjadi merasa terancam, dia takut akan digituin sama
Warok Suro Gento yang ada di hadapannya.
“Aku buka loh kamu gak percaya. Aku buka sekarang ya. Mau ‘kan,
Beb? Nih lihat nih.”
Warsiah berteriak sekeras-kerasnya meminta pertolongan. “Lonjongggg!
Eh, Tolonggggggg!”
“Siapa pun please help me! Tolongggggg!”
Warsiah terus berteriak sambil berlari. “Tolongggg ada yang
lonjongggggg!”
Sementara itu, di belakangnya Warok Suro Gento mengejar. “Beb,
tunggu dog, ah!”
Warok Suro Gento ingin menjelaskan lebih lanjut karena merasa
telah timbul kesalahpahaman. Maksudnya bukti cintanya. Kenapa Warsiah malah
teriak-teriak lonjong sih. Aneh!
Bagaimana kelanjutannya, mungkinkah Warok Suro Gento si
mantan begal bisa menjelaskan duduk perkara kesalahpahaman ini dan meraih cinta
perempuan yang telah lama mengendap di hatinya?
Bagaimana dengan Raden Subroto yang juga memutuskan akan ke
sendang? Suminten calon istrinya bagaimana dong? Kok malah sibuk sama kembang
desa sih! Nantikan kelanjutannya di episode 3. BERSAMBUNG
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment